Selasa, 17 Januari 2012

Potongan CERPEN (Mom In My Midnight)

Ketika malam memang tak seperti biasanya, malam pertengahan bulan sya`ban, angin berhembus perlahan membelai wajahku dengan semilirnya. Di atas hamparan angkasa yang luas, bulan berada di titik puncak mekarnya, warna merah nan indah merekah bagaikan bunga mawar di tengah taman yang hijau. Aku berdiri mematung memandanginya, di antara awan yang berarak pelan, bulan tersipu malu padaku. Aku tersenyum padanya, ia membalas senyumku dengan tatapan yang tak terlukiskan kecuali oleh seorang penyair Lebanon kepada Selma karamy.

Saat itu aku berdiri di atas gedung yang tengah diperbaiki tembok dan atapnya, gedung itu menghadap ke timur, sangat indah tatkala fajar kidzib datang setiap paginya. Burung alap-alap akan berceloteh riang dari atas gedung, saling mencuit merayu kekasih-kekasihnya untuk segera bangun dari altarnya. Aku masih terdiam memandangi apa yang bisa aku pandang.

“Dhe tika, antum belum tidur?”

Seorang wanita cantik dengan jilbab biru lautnya melambai-lambai tertiup angin. Wajahnya bersinar memantulkan cahaya purnama yang sedikit samar. Aku memandang wanita itu lekat-lekat hingga wajahnya bisa aku lihat dengan jelas.

“Belum mbak, Tika lagi pingin menyendiri”

Aku memutarkan tubuh, memandangi bulan kembali. Wanita itu, yang aku panggil mbak Hasna mendekatiku, lalu ia berdiri di samping kananku.

"Subhanallah bulan yang bagus ya dhe"

Aku menoleh padanya, bibir dan wajah yang terkena basuhan air wudhu berkerlingan bak mutiara. Sunguh aku melihat dirinya teamat cantik melebihi cantiknya bidadari surge yang lemah lembut dan elok rupanya.

Wanita itu menatapku dan berkata lagi, "Jika bulan begitu indah dengan wajah sinarnya bagaimana tidak bagi kita, yang seorang muslimah".

Nominator Lomba Cerpen SOLOPOS 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar