Ketika malam memang tak seperti
biasanya, malam pertengahan bulan sya`ban, angin berhembus perlahan membelai
wajahku dengan semilirnya. Di atas hamparan angkasa yang luas, bulan berada di
titik puncak mekarnya, warna merah nan indah merekah bagaikan bunga mawar di
tengah taman yang hijau. Aku berdiri mematung memandanginya, di antara awan
yang berarak pelan, bulan tersipu malu padaku. Aku tersenyum padanya, ia
membalas senyumku dengan tatapan yang tak terlukiskan kecuali oleh seorang
penyair Lebanon kepada Selma karamy.
Saat itu aku berdiri di atas
gedung yang tengah diperbaiki tembok dan atapnya, gedung itu menghadap ke
timur, sangat indah tatkala fajar kidzib datang setiap paginya. Burung
alap-alap akan berceloteh riang dari atas gedung, saling mencuit merayu
kekasih-kekasihnya untuk segera bangun dari altarnya. Aku masih terdiam
memandangi apa yang bisa aku pandang.
“Dhe tika, antum belum tidur?”
Seorang wanita cantik dengan
jilbab biru lautnya melambai-lambai tertiup angin. Wajahnya bersinar
memantulkan cahaya purnama yang sedikit samar. Aku memandang wanita itu
lekat-lekat hingga wajahnya bisa aku lihat dengan jelas.
“Belum mbak, Tika lagi pingin
menyendiri”
Aku memutarkan tubuh, memandangi
bulan kembali. Wanita itu, yang aku panggil
mbak Hasna mendekatiku, lalu ia berdiri di samping kananku.
"Subhanallah bulan yang bagus ya
dhe"
Aku menoleh padanya, bibir dan
wajah yang terkena basuhan air wudhu berkerlingan bak mutiara. Sunguh aku
melihat dirinya teamat cantik melebihi cantiknya bidadari surge yang lemah
lembut dan elok rupanya.
Wanita itu menatapku dan berkata
lagi, "Jika bulan begitu indah dengan
wajah sinarnya bagaimana tidak bagi kita, yang seorang muslimah".
Nominator Lomba Cerpen SOLOPOS 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar