Ketika malam memang tak seperti biasanya, malam pertengahan
bulan Sya`ban, angin berhembus perlahan membelai wajahku dengan
semilirnya. Di atas hamparan angkasa yang luas, bulan berada di titik puncak
mekarnya, warna merah nan indah merekah bagaikan bunga mawar di tengah taman
yang hijau. Aku berdiri mematung memandanginya, diantara awan yang berarak
pelan, bulan tersipu malu padaku. Aku tersenyum padanya, ia membalas senyumku
dengan tatapan yang tak bisa di lukiskan kecuali oleh seorang penyair Libanon
kepada kekasihnya, Selma Karamy.
Saat itu, aku berdiri di atas gedung yang tengah di perbaiki
tembok dan atapnya, gedung itu menghadap ke timur, sangat indah tatkala fajar
kidzib datang setiap paginya. Burung alap-alap akan berceloteh riang dari atas
gedung, saling mencuit merayu kekasih-kekasihnya untuk segera bangun dari
altarnya. Aku masih terdiam memandangi apa yang bisa aku pandang dari keindahan
mata untuk memandang sesuatu yang memang indah untuk dipandang.
"Dhe
Tika, antum belum tidur?" sapa Hasna.
Seorang wanita cantik dengan jilbab biru lautnya yang
melambai-lambai tertiup angin. Wajahnya bersinar, memantulkan cahaya bulan
purnama yang sedikit samar. Aku memandangi wanita itu lekat-lekat hingga
wajahnya bisa aku lihat dengan jelas.
"Belum mbak, Tika lagi pingin menyepi aja", kataku lirih.
Aku memutarkan tubuh, memandangi bulan kembali.
Wanita itu, yang aku panggil mbak Hasna
mendekatiku, lalu berdiri tepat di samping kananku.
"Subhanallah,
bulan yang bagus ya dhe", kata wanita itu.
Aku menoleh padanya,bibir dan wajahnya yang basah terkena air
wudlu berkerlingan bagaikan mutiara di bawah pancaran sinar. Sungguh aku
melihat dirinya teramat cantik, melebihi cantiknya bidadari surga yang lemah
lembut dan elok rupanya.
Wanita itu menatapku dan berkata lagi,
"Jika bulan
begitu indah dengan wajah samarnya, bagaimana tidak bagi kita yang seorang
muslimah"
*
"Nduk,
mbok kamu jangan lama-lama di Solo. Ibu ingin cepat-cepat melihat kamu ngajar
di sekolah Ibu", kata Ibu suatu malam.
Di serambi rumah, aku duduk bersimpuh pada Ibu yang tengah
membelaiku dengan manja.Tangan-tangannya yang kasar tetap halus dalam belaian.
Aku mencium tangan itu tatkala jari jemarinya berjalan di antara hidung dan
bibirku. Bau yang harum bagi seorang wanita sholehah, fikirku.
"Injih Bue', Insya Allah,
Tika hanya bisa berusaha, Alloh yang mengaturnya Bue`", kataku pelan.
Aku menatapnya lagi, teringat
akan perjuangan hidupnya dalam menghidupi aku dan adik-adikku. Wajahnya yang
mulai layu menggambarkan perjuangan hidup yang telah di gelutinya, sebelum dan
setelah Bapak meninggal. Seperti dua wajah yang sangat berseberangan, antara
pagi dan sore hari.
"Iya,
Bue` tau, Bue` hanya berharap, sebelum hidup Bue` paripurna di dunia, hanya
satu keinginan Bue`, melihat anak Bue` jadi seorang ustadzah", kata Bue`
lagi.
Aku terus
menatapnya, dan mengusap air hangat yang mengalir di atas kerutan pipinya.
Mungkin kepayahan telah melemahkan semua ketegaran yang selama ini ia lakukan
sendiri.
"Bue`
ini, jangan ngomong kayak gitu. Insya Alloh Bue` akan melihat dan Tika berharap
Bue` selalu nemenin Tika nanti", kataku.
Aku
memeluknya dengan erat, begitu juga dirinya.
*
Saat badan-badan bus berhamburan memenuhi perempatan jalan raya,
lampu merah menyala terang. Deruman mesin-mesin besar itu mengeluarkan
asap-asap tebal berwarna hitam. Aku turun, namun kepulan asap memenuhi wajahku
hingga hidungku terasa di penuhi air comberan bekas tabung-tabung besar
penyedot tinja.
Aku berjalan sedikit sempoyongan menuju rumahku, bau tak sedap
dari penumpang, asap rokok, dan juga bau pantat-pantat ayam yang mengeluarkan
kotoran di sembarang tempat, dan yang paling menambah penderitaanku, bau-bau
makanan setengah giling yang keluar dari perut-perut penumpang, semuanya
bercampur aduk dengan enzim di dalam lambung, itu semakin membuatku muak.
*