Kamis, 19 Januari 2012

Mom In My Midnight (Full)


Ketika malam memang tak seperti biasanya, malam pertengahan bulan Sya`ban, angin berhembus perlahan membelai wajahku dengan semilirnya. Di atas hamparan angkasa yang luas, bulan berada di titik puncak mekarnya, warna merah nan indah merekah bagaikan bunga mawar di tengah taman yang hijau. Aku berdiri mematung memandanginya, diantara awan yang berarak pelan, bulan tersipu malu padaku. Aku tersenyum padanya, ia membalas senyumku dengan tatapan yang tak bisa di lukiskan kecuali oleh seorang penyair Libanon kepada kekasihnya, Selma Karamy.
Saat itu, aku berdiri di atas gedung yang tengah di perbaiki tembok dan atapnya, gedung itu menghadap ke timur, sangat indah tatkala fajar kidzib datang setiap paginya. Burung alap-alap akan berceloteh riang dari atas gedung, saling mencuit merayu kekasih-kekasihnya untuk segera bangun dari altarnya. Aku masih terdiam memandangi apa yang bisa aku pandang dari keindahan mata untuk memandang sesuatu yang memang indah untuk dipandang.
                "Dhe Tika, antum belum tidur?" sapa Hasna.
Seorang wanita cantik dengan jilbab biru lautnya yang melambai-lambai tertiup angin. Wajahnya bersinar, memantulkan cahaya bulan purnama yang sedikit samar. Aku memandangi wanita itu lekat-lekat hingga wajahnya bisa aku lihat dengan jelas.
                "Belum mbak, Tika lagi pingin menyepi aja", kataku lirih.
Aku memutarkan tubuh, memandangi bulan kembali.
Wanita itu, yang aku panggil mbak Hasna mendekatiku, lalu berdiri tepat di samping kananku.
                "Subhanallah, bulan yang bagus ya dhe", kata wanita itu.
Aku menoleh padanya,bibir dan wajahnya yang basah terkena air wudlu berkerlingan bagaikan mutiara di bawah pancaran sinar. Sungguh aku melihat dirinya teramat cantik, melebihi cantiknya bidadari surga yang lemah lembut dan elok rupanya.
Wanita itu menatapku dan berkata lagi,
"Jika bulan begitu indah dengan wajah samarnya, bagaimana tidak bagi kita yang seorang muslimah"
*
                "Nduk, mbok kamu jangan lama-lama di Solo. Ibu ingin cepat-cepat melihat kamu ngajar di sekolah Ibu", kata Ibu suatu malam.
Di serambi rumah, aku duduk bersimpuh pada Ibu yang tengah membelaiku dengan manja.Tangan-tangannya yang kasar tetap halus dalam belaian. Aku mencium tangan itu tatkala jari jemarinya berjalan di antara hidung dan bibirku. Bau yang harum bagi seorang wanita sholehah, fikirku.
                "Injih Bue', Insya Allah, Tika hanya bisa berusaha, Alloh yang mengaturnya Bue`", kataku pelan.
                Aku menatapnya lagi, teringat akan perjuangan hidupnya dalam menghidupi aku dan adik-adikku. Wajahnya yang mulai layu menggambarkan perjuangan hidup yang telah di gelutinya, sebelum dan setelah Bapak meninggal. Seperti dua wajah yang sangat berseberangan, antara pagi dan sore hari.
                "Iya, Bue` tau, Bue` hanya berharap, sebelum hidup Bue` paripurna di dunia, hanya satu keinginan Bue`, melihat anak Bue` jadi seorang ustadzah", kata Bue` lagi.
                Aku terus menatapnya, dan mengusap air hangat yang mengalir di atas kerutan pipinya. Mungkin kepayahan telah melemahkan semua ketegaran yang selama ini ia lakukan sendiri.
                "Bue` ini, jangan ngomong kayak gitu. Insya Alloh Bue` akan melihat dan Tika berharap Bue` selalu nemenin Tika nanti", kataku.
                Aku memeluknya dengan erat, begitu  juga dirinya.
*
Saat badan-badan bus berhamburan memenuhi perempatan jalan raya, lampu merah menyala terang. Deruman mesin-mesin besar itu mengeluarkan asap-asap tebal berwarna hitam. Aku turun, namun kepulan asap memenuhi wajahku hingga hidungku terasa di penuhi air comberan bekas tabung-tabung besar penyedot tinja.
Aku berjalan sedikit sempoyongan menuju rumahku, bau tak sedap dari penumpang, asap rokok, dan juga bau pantat-pantat ayam yang mengeluarkan kotoran di sembarang tempat, dan yang paling menambah penderitaanku, bau-bau makanan setengah giling yang keluar dari perut-perut penumpang, semuanya bercampur aduk dengan enzim di dalam lambung, itu semakin membuatku muak.
*

"Bue`pokoknya Tika minta motor" kataku suatu saat.
                Duduk di atas kursi, memandangi Ibu dan adik-adikku.
                "Motor dari mana nduk? Lha beli laptop aja bue dah ngejual kambing peninggalan ayahmu itu? Bue belum ada uang" kata Ibu sambil melipat baju.
                "Yah, Tika capek bue bolak balik naik bus, mana baunya bikin Tika mual", kataku merajuk.
                "Ya sabar, kalau ada rejeki pasti Ibu beliin" katanya menegaskan.
                 Wajahku murung seketika, dan entah apa setan yang membelenggu dalam hatiku. Sejak aku memandang dunia bagaikan intan permata, dan saat aku memandang gemerlap dunia adalah segalanya, aku terpedaya.
                "Yasudah kalau ndak di beliin Tika minggat" kataku berjalan menuju kamar.
Membanting pintu itu dengan keras.
*
Malam begitu pekat, sirine ambulan meraung-raung di desa kami. Mendadak setiap orang yang tertidur terbangun dengan paksa. Menyeruak, bermunculan di depan rumah dan di jalan-jalan desa.Memandangi ambulance yang datang secara tiba-tiba di tengah malam.
                Rumah yang kecil dengan keramik putihnya, sesosok tubuh di tutupi dengan kain putih di angkat dari badan mobil ambulance. Aku yang tertidur di depan rumah seketika terbangun. Adik-adikku menangis tanpa henti, menggoyangkan tubuh di hadapanku.
                Keluarga dan tetangga-tetanggaku melihatku penuh iba, bahkan bude`memelukku dengan erat hingga aku susah untuk bernafas, aku masih tak mengerti, mengapa banyak sekali orang di rumahku. Dan aku begitu bimbang, dimana bue`..dimana bue` sekarang, mengapa ada tangisan, mengapa ada banyak sekali manusia berjubel di hadapanku.
Masih dalam kebimbanganku, aku di sodorkan pada kenyataan pahit, sesosok wajah yang pucat di balik kain yang menutupinya. Wajah yang aku kenal, wajah yang selama ini telah mencintaiku tanpa ingin di balas, wajah itu, Ibuku.
                Aku segera berlari menghampiri tubuh itu, namun di cegah oleh paman-pamanku.
                "Bue`..Bue..!", teriakku.
Tangan-tangan pamanku menghalangi.
                "Lepaskan! Aku ingin bertemu Bue`!", kataku meronta.
                Aku memukul tubuh-tubuh keras mereka, namun tetap tak ada artinya. Aku melihat wajah pucat itu tatkala angin menerpanya, wajah bue` begiru layu. Aku menitikkan air mata dengan derasnya, hingga tubuh ini basah dengan hangat air mata yang menyesakkan.
                “Nduk! Nduk! Bangun Nduk! Istighfar!” kata seseorang membangunkanku. 
Sekujur tubuhku telah menitikkan air dingin yang lembab.
                “Kamu mimpi apa Nduk?” katanya lagi.
                Samar aku memandangnya, dan ketika pandangan redupku mulai hilang, aku melihat wajah bue di hadapanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar