Ia tumbuh dengan cepat, tanpa disadari telah menetap
dibalik dinding yang tak pernah sepi dan menancapkan akarnya sedemikian dalam.
“Sebenarnya kamu itu cinta atau sayang?”
Mungkin kedengarannya sangatlah lucu ataupun aneh,
tapi begitulah ia, telah mekar begitu saja, karena ia adalah bunga yang mekar
tak mengenal musim, ia telah datang padaku.
“Aku tak tau perasaan apa, tapi yang jelas ketika aku
berada didekatnya, seakan aku dibawa ke suatu tempat dimana tak ada rasa
kesakitan dan kegelisahan, seakan beban yang selama ini nyaris membunuhku diangkat
ke langit, aku merasa tenang meski aku terpenjara hingga jasadku membusuk”
Sahabatku menghela nafas panjangnya, “Lantas?”
“Menurutmu, sesuatu yang membuatmu tenang, tanpa
mengenal lagi rasa sakit, gelisah dan padanan kata yang menyertainya, apakah
itu yang di sebut cinta? ataukah itu yang di sebut sayang?”
Sahabatku mengerutkan dahi dan menyatukan alis matanya,
lalu mengambil nafas yang begitu dalam, “Entahlah, mungkin ketenangan itu yang
membuatmu tak bisa melupakannya”
*
Aku mengenalnya seperti kau mengenalku dan mengenalnya, setidaknya itulah yang selama ini meyakinkanku, jika aku salah, mungkin kesalahan itu karena aku tak bisa membedakan kulit, buah dan bijinya, tak seperti kau mengenalnya hingga biji dan tunas yang akan tumbuh nantinya dibalik selimut buah itu.
Pagi itu ia
menyapaku, melambaikan tangannya ke arahku. Benar-benar dunia diperlambat, satu
detik denting waktu seperti telah lupa pada stasiun pemberhentian waktu
akhirnya. Fikirankupun kacau.
Sahabatku kali ini
tak hanya menghirup nafas dalam-dalam dan menghelanya panjang-panjang, namun ia
memakan dan memutar nafasnya tak diijinkan keluar beberapa saat, “Kau bermain
dengan ombak yang gelombangnya tak pernah tenang”
“Bisakah kau
membantuku”
“Sejak kapan aku
tak ingin membantumu, bukankah selama ini engkaulah yang selalu menghilang,
seperti anginkah dirimu yang kadangkala datang dengan lembut, kadangkala datang
dengan cepat dan seringkali kau pergi tanpa memberitahu semua sebab, tapi aku
tau itulah dirimu, masih tetap sahabatku”
Aku menunduk,
tersenyum dan tertawa.
Sahabatku menghela
nafas lebih panjang dan menghirupnya kembali lebih panjang, menatapku dengan
tatapan seolah aku begitu menyedihkan.
*
“Kau perlu seorang
dokter,” kata sahabatku. “Sepertinya kau telah akut dan sakitmu stadium empat”
Aku tersenyum
kembali, “Bagaimana mungkin dokter dapat menyembuhkanku? Seorang dokter hanya
mengetahui penyakit sampai stadium empat, sedangkan aku telah stadium lima
menginjak enam?”
Sahabatku pucat,
antara gelak menahan tawa melawan rasa sesak yang dapat meluluhkan air mata.
*
Suatu hari
sahabatku berkata, “Telah aku sampaikan hajatmu dan telah kau ketahui
hasilnya,” ia menatapku. Aku tersenyum.
“Bukankah dulu
telah aku katakan padamu, sudahlah cukup sampai disini, tapi tetap saja aku tak
pernah kau hiraukan!” sahabatku berkata lagi, dan kini dengan luapan emosi
penuh amarah.
Aku masih saja
tersenyum.
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar