Kamis, 19 Januari 2012

Tarian Gelombang

Ia tumbuh dengan cepat, tanpa disadari telah menetap dibalik dinding yang tak pernah sepi dan menancapkan akarnya sedemikian dalam.
“Sebenarnya kamu itu cinta atau sayang?”
Mungkin kedengarannya sangatlah lucu ataupun aneh, tapi begitulah ia, telah mekar begitu saja, karena ia adalah bunga yang mekar tak mengenal musim, ia telah datang padaku.
“Aku tak tau perasaan apa, tapi yang jelas ketika aku berada didekatnya, seakan aku dibawa ke suatu tempat dimana tak ada rasa kesakitan dan kegelisahan, seakan beban yang selama ini nyaris membunuhku diangkat ke langit, aku merasa tenang meski aku terpenjara hingga jasadku membusuk”
Sahabatku menghela nafas panjangnya, “Lantas?”
“Menurutmu, sesuatu yang membuatmu tenang, tanpa mengenal lagi rasa sakit, gelisah dan padanan kata yang menyertainya, apakah itu yang di sebut cinta? ataukah itu yang di sebut sayang?”
Sahabatku mengerutkan dahi dan menyatukan alis matanya, lalu mengambil nafas yang begitu dalam, “Entahlah, mungkin ketenangan itu yang membuatmu tak bisa melupakannya”
*
               
Aku mengenalnya seperti kau mengenalku dan mengenalnya, setidaknya itulah yang selama ini meyakinkanku, jika aku salah, mungkin kesalahan itu karena aku tak bisa membedakan kulit, buah dan bijinya, tak seperti kau mengenalnya hingga biji dan tunas yang akan tumbuh nantinya dibalik selimut buah itu.
                Pagi itu ia menyapaku, melambaikan tangannya ke arahku. Benar-benar dunia diperlambat, satu detik denting waktu seperti telah lupa pada stasiun pemberhentian waktu akhirnya. Fikirankupun kacau.
                Sahabatku kali ini tak hanya menghirup nafas dalam-dalam dan menghelanya panjang-panjang, namun ia memakan dan memutar nafasnya tak diijinkan keluar beberapa saat, “Kau bermain dengan ombak yang gelombangnya tak pernah tenang”
                “Bisakah kau membantuku”
                “Sejak kapan aku tak ingin membantumu, bukankah selama ini engkaulah yang selalu menghilang, seperti anginkah dirimu yang kadangkala datang dengan lembut, kadangkala datang dengan cepat dan seringkali kau pergi tanpa memberitahu semua sebab, tapi aku tau itulah dirimu, masih tetap sahabatku”
                Aku menunduk, tersenyum dan tertawa.
                Sahabatku menghela nafas lebih panjang dan menghirupnya kembali lebih panjang, menatapku dengan tatapan seolah aku begitu menyedihkan.
*
                “Kau perlu seorang dokter,” kata sahabatku. “Sepertinya kau telah akut dan sakitmu stadium empat”
                Aku tersenyum kembali, “Bagaimana mungkin dokter dapat menyembuhkanku? Seorang dokter hanya mengetahui penyakit sampai stadium empat, sedangkan aku telah stadium lima menginjak enam?”
                Sahabatku pucat, antara gelak menahan tawa melawan rasa sesak yang dapat meluluhkan air mata.
*
                Suatu hari sahabatku berkata, “Telah aku sampaikan hajatmu dan telah kau ketahui hasilnya,” ia menatapku. Aku tersenyum.
                “Bukankah dulu telah aku katakan padamu, sudahlah cukup sampai disini, tapi tetap saja aku tak pernah kau hiraukan!” sahabatku berkata lagi, dan kini dengan luapan emosi penuh amarah.
                Aku masih saja tersenyum.
*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar