Kamis, 19 Januari 2012

Shadow


Aku melihat sesosok makhluk besar terbang di atas kepala-kepala orang terkasihku. Makhluk itu berjubah gelap dan bersayap hitam, tak mengenal kasih, tertekan dan penuh amarah. Ia membawa senjata semacam golok dan mengibas-ibaskan ke arah kekasihku, orang tuaku dan kedua orang tua kekasihku. Dan tanpa aku duga, senjata di tangan makhluk itu menebas orang-orang terkasihku satu-persatu, seperti sekelompok penjagal yang menggorok sapi dan kambing di tempat-tempat pemotongan hewan.
Aku melihat di atas altar kematian, kepala kekasihku menggelinding, bercampur debu dan darahnya sendiri. Aku melihat di jalalan kasar, ibuku berlari mencari perlindungan kepada semua orang yang ia temui, namun, telinga orang-orang di sekelilingnya tertutup bubur beton. Wajah ibuku seperti seseorang yang tak pernah sedetikpun mengulum senyum kebahagiaan, salah satu makhluk besar itu menangkap dan menyiksanya, di leher ibuku, melilit semacam pengait yang terbuat dari besi panas. Aku melihat kedua orang tua kekasihku berlari ke arahku, wajah mereka pucat pasi, satu meter di depanku mengucur deras darah yang segar dari leher kedua orang tua kekasihku, darah mereka menyembur melumuri wajahku. Aku melihat, ayahku berusaha melawan, akan tetapi makhluk itu terlalu kuat lagi bringas, ayahku di kuliti hidup-hidup, isi perutnya dikeluarkan seperti babi-babi hutan oleh para pemburu, atau seperti umat muslim yang di bunuh secara sadis oleh salibis di Ambon, ayahku berteriak sekuat tenaga seperti jeritan para penghuni neraka menerima siksa, ia terjatuh dan tersungkur. Dengan sisa-sisa tenaga yang ayah miliki, ayah menatapku, tarikan nafasnya kacau, ia berusaha meraih tanganku.
Mulutku bergetar, lidahku seakan dicabut dari pangkalnya.
            “Apa yang kau lakukan! Makhluk laknat!” jerit ayahku.
Seketika otot sarafku menegang seperti kawat baja yang ditarik paksa meluruskan badannya. Telapak tanganku mengepal, mengatupkan jari-jari bekunya yang semakin kaku. Gigi-gigiku saling beradu, menggigit kencang gigi yang lain. Darah dalam tubuhku mendidih, ingin rasanya aku mencincang orang-orang yang membunuh orang terkasihku di depan mataku sendiri. Ingin rasanya aku menguliti kepala mereka hingga teriakan mereka hilang bersama hilangnya nyawa.
Teriakanku tak di hiraukan.
            Mendadak dari arah belakang, aku di cekal oleh dua tangan besar. Aku tak berdaya, aku lagi-lagi berteriak, ingin melepaskan genggaman-genggaman itu dan memotong jari-jarinya agar tak menyakitiku.
            “Lepaskan aku!”, aku berteriak lebih keras, berusaha melepaskan tangan-tangan itu. Untuk kesekian kalinya usahaku sia-sia, mereka menyuntikku.
            “Tenang cucuku, tenang”, kata seorang wanita di samping tangan-tangan kasar itu. Aku tak tau persis wanita tua itu, kepalaku pusing, mataku berkunang-kunang, pandanganku samar, suara-suara menjadi gema-gema yang membuatku tak tau aku berada di mana.
*

Aku benar-benar terbang, melayang tinggi di udara saat seorang yang telah lama membuat hatiku menggelepar menghampiriku. Degup jantungku saling kejar dengan nafasku yang kacau. Tangan dan kaki bergemeretak tak wajar, sedang wajah tak bisa aku angkat barang satu gerakan. Semakin cepat ia mendekat, semakin kacaulah fikiranku, aku membenamkan wajahku dalam keheninganku yang meronta.
“Mustika, maukah kau menjadi belahan jiwaku?”
Aku harus berbuat apa, aku harus menjawab apa, aku benar-benar beku.
Dan saat itulah, cintaku semakin membumbung tinggi menembus awan-awan yang diam di  langit ke tujuh, aku melihat bumiku berwarna biru, sebiru bola mata tujuh puluh bidadari memandangku malu-malu. Mereka menutup wajah-wajah mereka dengan selendang-selendang berwarna putih bercahaya.
*
Pemuda itu benar-benar datang ke rumahku. Ia tak datang sendiri, tapi dengan ke dua orang tuanya. Ia memakai kemeja berwarna coklat muda, sedang ke dua orang tuanya memakai baju batik. Aku kalang kabut dan cemas. Segera aku berlari mencari ayah dan ibuku.
”Ayah! Ibu! .kalian di mana!” teriakku mencari mereka.
Aku yakin saat itu papa dan bunda berada di pekarangan belakang. Bunda mengangkat jemuran baju yang belum juga kering, sedang papa menutupi padi yang di jemur dengan deklit agar tak sampai kena hujan atau embun di pagi hari.
“Ayah! Ibu! Mereka datang!” teriakku lagi.
Aku benar-benar gembira, karena laki-laki itu menepati janjinya, begitu juga aku lihat di wajah ke dua orang tuaku yang segera meninggalkan pekerjaannya untuk menemui keluarga pemuda itu.
*
            Seketika wajah kedua orang tuaku berubah rona. Keceriaan di wajah mereka berubah merah padam penuh amarah.
            “Hendro!” teriak ayah dan ibuku terhenyak.
            Aku melihat wajah mereka seperti dipukul palu.
            “Tak ada pernikahan untuk anak gadisku dengan anak harammu manusia bangsat!” teriak ayah.
            Hatiku kacau, seperti ada segerombol angin tornado yang memutar dadaku, seperti ada banteng-banteng liar yang menyeruduk dadaku dengan tanduknya yang besar, seperti ada halilintar yang menyambarku.
            “Oo..jadi ini gadis yang kau taksir!” kata ibu dari kekasihku, menatap sinis. “Gadis yang terlahir dari keluarga busuk tentu berbau busuk! Lihat saja dandanannya, tak lebih baik dari hidung babi!” katanya mengakhiri.
            Seperti tercabik sayatan pedang yang berkarat, hatiku terkoyak.
            “Brakk..” suara hantaman mengenai dua wajah orang tua kekasihku.
“Dasar manusia setan!” bersama pukulan ayah tak henti-hentinya mengutuki orang-orang itu.
Maka tak terelakan perkelahian yang tak berimbang, ayah di keroyok. Ayahku yang bertubuh besar dan keras tak mampu menahan pukulan dua orang itu, termasuk kekasihku, hingga keributan yang mengusik mengundang tetangga-tetanggaku.
Hati, mata, fikiranku, semuanya gelap dan kosong.
*
“Bagaimana kondisi cucu kami dok?”
            “Sebenarnya kondisi cucu bapak dan ibu sedah semakin membaik, namun kami takut sewaktu-waktu kesadarannya akan hilang dan tak terkendali kembali. kami harap ibu dan bapak tenang, biar kami yang mengatasinya hingga tak ada orang lain yang di lukainya”.
            “Terima kasih dok”
Kedua jompo itu berlalu.
“Ooh..malang nian engkau cucuku, apa yang bisa nenek dan kakek lakukan untukmu. Seandainya ayah dan ibumu masih hidup, seandainya tidak terjadi kecelakaan tragis yang menimpa kekasihmu dan keluarganya, tentu engkau tidak akan terkurung dalam ruangan yang sempit ini”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar